Ujung Tanjungku, Riak Siakmu
Ketika rumah telah menjadi sesuatu yang dapat diabaikan dan laut kian terbentang luas di matanya, barangkali, seorang pelaut mesti mencari sebuah titik untuk menambatkan sebentuk perahu. Di sebuah Ujung Tanjung, di persimpangan beberapa estuaria dan di sejumlah komunitas bakau dan kunang-kunang, bisa jadi, di situlah, titik itu menjadi sebuah alternatif. Ia yakin, persinggahan takkan pernah kekal, karena memang perjalanan tetap perjalanan. Bergerak dengan selayaknya kekuatan yang ada. Lalu ketika ia menemukan sebuah riak, di sungai yang tenang dan dalam, renta karena usia, dan menyimpan luka yang tak terbaca, ia pun selalu ingin berkata-kata; dengan puisi dan cerita di tangannya. Ia berharap, mereka dapat belajar membaca, membaca dan membaca. Siak tahu, riak muda selalu di punggungnya, meski selalu kecewa karena yang muda selalu lupa, riwayat masa lalu asal-usulnya. Ke ujung tanjung kukayuh perahu
Dari Siak, sungaimu yang layu
Risau aku dengan sesuatu di tubuhmu
Menjaring imajiku di kedalaman waktu..
[Sobirin Zaini]

