Selasa, 14 Agustus 2007

Ujung Tanjungku, Riak Siakmu

Ketika rumah telah menjadi sesuatu yang dapat diabaikan dan laut kian terbentang luas di matanya, barangkali, seorang pelaut mesti mencari sebuah titik untuk menambatkan sebentuk perahu. Di sebuah Ujung Tanjung, di persimpangan beberapa estuaria dan di sejumlah komunitas bakau dan kunang-kunang, bisa jadi, di situlah, titik itu menjadi sebuah alternatif. Ia yakin, persinggahan takkan pernah kekal, karena memang perjalanan tetap perjalanan. Bergerak dengan selayaknya kekuatan yang ada. Lalu ketika ia menemukan sebuah riak, di sungai yang tenang dan dalam, renta karena usia, dan menyimpan luka yang tak terbaca, ia pun selalu ingin berkata-kata; dengan puisi dan cerita di tangannya. Ia berharap, mereka dapat belajar membaca, membaca dan membaca. Siak tahu, riak muda selalu di punggungnya, meski selalu kecewa karena yang muda selalu lupa, riwayat masa lalu asal-usulnya.

Ke ujung tanjung kukayuh perahu

Dari Siak, sungaimu yang layu

Risau aku dengan sesuatu di tubuhmu

Menjaring imajiku di kedalaman waktu..

[Sobirin Zaini]



AWAL PELABUHAN


Saya Tidak Tahu Kapan "Kutukan" Ini Berakhir

Kepuasan tersendiri dalam keinginan berbagi apapun dalam bentuk puisi bagi saya adalah sebuah kepedulian yang dapat saya lakukan sebagai seorang penulis puisi. Dengan puisi, kepedulian terhadap apapun yang terjadi di sekitar saya itu dapat saya ungkapkan dengan sangat jujur, dengan bahasa yang tidak biasanya, dengan permainan bunyi dan rima dalam setiap baitnya, dan dengan perlambangan-perlambangan yang membebaskan naluri kemanusiaan saya untuk mengatakan sesuatu yang benar.

Kepuasan tersendiri itu juga mungkin menjadi titik tolak dalam "memaksa" saya untuk selalu menikmatinya dalam menulis puisi untuk diri saya dan orang lain. Maka, ketika keinginan untuk selalu menulis puisi bagi saya adalah kebutuhan dan mau tak mau harus saya lakukan, dari sanalah kemudian saya menganggap bahwa menulis puisi (juga karya sastra yang lain) adalah sebuah "kutukan". Kutukan bahwa saya memang harus selalu menulis puisi, mengungkapkan apapun yang benar dari apa yang terjadi di sekitar diri saya.

Saya tidak tahu sampai kapan "kutukan" ini berakhir, meski saya juga tidak tahu pula kenapa saya begitu menikmatinya..